cara menulis aksara jawa

Cara Menulis Aksara Jawa yang Baik dan Benar [Lengkap]

Cara Menulis Aksara Jawa – Aksara jawa memiliki beberapa variasi dengan berbagai bunyi yang berbeda-beda pengucapannya, hal tersebut bergantung pada tiap kata yang ditulis bersama dengan aksara tersebut. Seperti contoh huruf a bisa dibaca a pada papa atau bisa di baca á pada kata lārā.

Aksara jawa adalah aksara yang digunakan oleh suku Jawa pada jaman dahulu secara umum. Pada masa kerajaan, orang-orang yang terdidik harus mengerti tentang aksara jawa. Hal tersebut digunakan untuk mempermudah komunikasi antara rakyat  Jawa.

Penggunaan huruf jawa atau aksara Jawa dikaitkan dengan adanya berbagai hasil prestasi sejarah dan peninggalan batu tulisan yang dapat mengungkapkan bagaimana sebenarnya jalannya kehidupan yang ada pada masa dahulu.

Cara Menulis Aksara Jawa

cara menulis aksara jawa
From: Hendrisose.com

Aksara jawa merupakan salah satu aksara keturunan dari aksara Brahmani. Pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan di Jawa jaman dahulu, aksara resmi yang digunakan untuk melakukan berbagai macam kegiatan yang berhubungan dengan baca tulis khususnya cara penulisan aksara jawa maka aksara jawa lah yang digunakan.

Mulai dari pengiriman surat, penulisan karya sastra baru, karya buku bahkan pengiriman surat antar kerajaan pun menggunakan aksara jawa. Penyebaran aksara jawa sendiri tidak hanya di Pulau Jawa melainkan ke luar Pulau Jawa.

Nah, tercatat penyebaran aksara tersebut mencapai Makassar, Melayu, Sunda, Bali, dan Sasak.

Aksara jawa mulai dikenal sejak abad ke17 Masehi, tetapi tepatnya di masa kerajaan Mataram Islam.

Cara Menulis Aksara Carakan

cara menulis aksara jawa
From: stapico.com
Aksara jawa cerakan merupakan aksara jaw yang paling dasar. Jika kita melihat dari namanya dapa disimpulkan jika aksara tersebut dapat digunakan untuk menulis bermacam-macam kata-kata.

Tetapi, ada juga aksara pasangan yang digunakan untuk mematikan (menghilangkan vokal) aksara yang sebelumnya. Untuk mempermudah kita akan menjelaskan tentang peraturan pasangan aksara dan peraturan pengucapannya.

Aksara carakan terdiri dari {beberapa|sebagian|lebih dari satu} huruf yang kita kenal saat ini yakni hanacaraka sampai seterusnya.

Cara Menulis Aksara Swara

cara menulis aksara jawa
From: kartowikromo.com

Cara menulis aksara jawa juga dapat dilakukan dengan mengandalkan aksara suara yang termasuk ke dalam susunan aksara yang digunakan untuk menulis bermacam-macam huruf vokal dari suatu kata serapan.

Kata serapan tersebut berasal dari bahasa asing yang digunakan untuk mempertegas dalam pengucapan huruf aksara jawa. Seperti gambar diatas.

Cara Menulis Aksara Wilangan

cara menulis aksara jawa
From: sharingconten.com

Aksara wilangan atau yang biasa disebut dengan aksara bilangan termasuk dalam cara menulis aksara jawa yang digunakan sebagai penulisan angka didalam aksara jawa.

Nah, kalian harus menghafalkannya karena aksara tersebut termasuk tahap dasar untuk menomori atau dalam hal numberik.

Tanda Baca Aksara Jawa

Setelah kita mempelajari berbagai jenis macam huruf dan berbagai jenis bilangan dalam suatu kaidah penulisan aksara jawa. Selanjutnya kita akan mempelajari tentang berbagai macam kaidah atau peraturan yang mempelajari tentang penulisan aksara jawa beserta penjelasannya.

Sandangan Aksara Jawa

cara menulis aksara jawa
From: Wikipedia.com

Kita akan menjelaskan tentang cara menulis aksara jawa karena banyak yang sering bingung perbedaan antara sandangan dengan aksara suara.

Sandangan merupakan huruf vokal tidak independen yang digunakan hanya untuk ditengah kata. Sandangan dibedakan berdasarkan cara bacanya.

Cara Menulis Aksara Rekan

cara menulis aksara jawa
From: wordpress.com

Aksara rekan merupakan cara menulis aksara jawa yang berfungsi untuk menuliskan huruf huruf serapan yang berasal dari bahasa Arab, seperti huruf-huruf  f, kh, dz dan lain sebagainya.

Contoh Aksara Rekan

caara menulis aksara jawa
From: hidusimpel.com

Aksara Jawa Nglegena dan Pasangannya

cara menulis aksara jawa
From: nasionalisme.co

Aksara Jawa Cerekan adalah aksara jawa yang paling dasar. Aksara jawa cerekan juga memiliki turunan huruf yang biasa disebut dengan “Pasangan”.

Aksara Jawa Nglegena

Aksara jawa nglegena atau juga bisa disebut aksara jawa carakan adalah aksara jawa yang paling dasar yang biasanya dipelajari terlebih dahulu sebelum berlanjut ke aksara jawa yang lainnya.

Dalam aksara jawa penulisan suku kata akan dituliskan dengan satu aksara. Namun tidak semua suku kata ada didalam aksara jawa nglegena. Untuk mengganti vokal pada suku kata kita harus menggunakan huruf vokal khusus aksara jawa.

Biasanya di tingkat yang masih awal kita hanya diajari dari kata-kata sederhana yang suku katanya terdapat dalam aksara jawa nglegena. Contohnya adalah aksara jawa nglegena

Aksara pasangan Nglegana

Dalam aksara jawa nglegena juga terdapat turunan huruf yang digunakan sebagai huruf mati atau konsonan yang berada ditengah kalimat. Aksara ini bernama “Pasangan”. Pasangan akan digunakan ketika aksara nglegena atau aksara dasar yang kita pakai didalam satu kata atau ditengah kalimat yang memiliki huruf konsonan (mati).

Contohnya adalah contoh penulisan

Aksara Murda

cara menulis aksara jawa
From: Thegorbalsia.com

Aksara murda merupakan aksara yang digunakan untuk disajikan lengkap dengan pasangannya. Secara penafsiran mudahnya, aksara murda juga termasuk dalam cara penulisan aksara jawa dengan huruf kapital didalam aksara jawa.

Aksara murda juga dapat dikatakan sebagai aksara khusus yang digunakan didalam penulisan huruf depan suatu nama orang, nama tempat, atau semua kata yang diawali dengan huruf kapital pada penulisannya.

Selain itu termasuk digunakan pada tiap-tiap awal paragraf atau kalimat.

Pasangan Aksara Murda

Pasangan aksara murda adalah pasangan yang dapat digunakan seperti pada umumnya. Aksara murda pasangan  berfungsi sama dengan pasangan aksara jawa nglegena yang digunakan untuk menggantikan suku kata yang mengandung konsonan didalam atau tengah kalimat.

Tanda Baca

Setelah kita mengetahui tentang semua aksara jawa, maka hendaknya kita juga mengetahui tanda bacanya agar bisa menulis dan membaca dengan benar. Tanda baca sangat dibutuhkan dalam penulisan aksara jawa.

Salah satu contohnya adalah aksara angka

Ketika di akhir kalimat sudah ada tanda baca maka kita menggunakan tanda “koma” sebagai “titik”. Ketika kata terakhir mengandung huruf konsonan maka dihentikan dengan “pangkon” dan ditutup dengan “koma” juga. Tetapi ketika di akhir kalimat tidak ada tanda yang mengikuti kata tersebut maka kita menggunakan “titik”. Contoh untuk yang bertanda titik sebagai berikut

Nah, ketika kita akan menulis aksara jawa yang benar adalah dengan menggunakan awalan “Adeg-adeg” dan akhiran “Pada lungsi”. Karena sering sekali orang lupa akan hal ini sehingga tidak mencantumkannya pada sebuah kalimat atau paragraf yang ditulisnya.

Asal Usul Sejarah Aksara Jawa

Sudah banyak sekali kita jumpai kisah legenda mengenai aksara jawa yang sampai saat ini masih kita kenang. Berikut merupakan referensi yang amat kuat yaitu legenda timbulnya aksara jawa.

Nah, ada seorang ksatria hebat yang sangat cerdas yang berasal dari tanah jawa yang termahsyur yang bernama Aji Saka. Abdi saka memiliki abdi yang sangat patuh dan setia kepadanya. Nama abdi tersebut ialah Dora dan Sembada.

Pada suatu ketika Aji saka telah melakukan perjalanan menuju sebuah kerajaan Medang Kamulan yang pada waktu itu diperintah oleh raja kanibal (raja yang suka memakan daging manusia).

Prabu Dewata Cengkar nama raja tersebut. Setiap hari Prabu Dewata Cengkar meminta kepada para pelayan dan prajuritnya untuk senantiasa tetap menghidangkan daging manusia sebagai makanan kesehariannya.

Hal tersebut sudah pasti membuat semua masyarakat menjadi resah dan menggerakkan hati Aji Saka  Untuk melawan raja yang kejam dan semena-mena itu. Kedua abdinya pun menemani Abdi Saka untuk berangkat menemui Sang Raja kanibal.

Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, sampailah Aji Saka di sebuah tepi hutan yang mana hutan tersebut sudah masuk ke dalam kawasan kekuasaan dari kerajaan Medang Kamulan.

Sebelum Aji Saka mulai masuk ke dalam kerajaan, salah satu abdi yang bernama Sembada diperintahkan oleh Aji Saka supaya tetap tinggal menetap di tempat tersebut fungsi untuk melindungi keris pusaka milik Aji Saka.

Legenda Terciptanya Aksara Jawa

Berdasarkan pesan Aji Saka tersebut, akhirnya sembada benar-benar dengan sungguh-sungguh menjaga keris tersebut. Keris itupun dijaga dan tidak boleh satupun diserahkan kecuali hanya kepada Aji Saka saja.

Sedangkan untuk pengikut lainnya yakni Dora turut diajak Aji Saka untuk berhadapan bersama dengan Sang Prabu Dewata Cengkar.

Setelah bersua dan berhadapan langsung bersama dengan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka-pun berusaha untuk membuat sebuah kesepakatan yang dianggap sama-sama menguntungkan bagi keduanya.

Aji Saka terima dirinya dimakan oleh sang Prabu namun bersama dengan satu syarat terakhir, yakni Prabu Dewata Cengkar harus berkenan untuk memberikan tanah kekuasaannnya seluas sorban atau ikat kepala yang sedang dikenakannya.

Alhasil Sang Prabu terima keinginan itu. Kemudian Aji Saka meminta kepada sang Prabu Dewata Cengkar guna mengukur tanah yang dimintanya bersama dengan cara Prabu Dewatacengkar memegang salah satu ujung surban yang kala itu ujung surban yang arah lainnya dipegangi oleh Aji Saka sendiri.

Maka sesudah itu Sang Prabu Dewata Cengkar-pun menarik surban tersebut dan terbentang. Dewata Cengkar terus bergerak mundur untuk menuruti permintaan Aji Saka membentangkannya mulai terhubung sorban, menariknya supaya terbentang.

Namun sesuatu yang anehpun terjadi, sorban tersebut tak kunjung habis-habisnya terbuka, di mana sorban terus-menerus terbentang, Prabu Dewata Cengkar pun terus berlangsung untuk membentangkannya. Sampailah sang Prabu berada di tepi jurang batu karang yang berada di tepi laut yang dalam nan terjal.

Dengan cerdiknya Aji Saka menggoyangkan sorbannya tersebut yang selanjutnya Prabu Dewata terlempar seketika ke tengah-tengah lautan. Akhirnya mati dan enyahlah sang prabu tersebut. Dengan peristiwa itu, rakyat pun bahagia bukan kepalang, dan menjadikan Aji Saka seorang raja.

Awal Mula Terciptanya Aksara Jawa

Setelah waktu berlalu dan sekian lama didapuk sebagai raja, Aji Saka lupa bakal kerisnya yang tertinggal dititipkan ke Sembada tersebut dan baru ingat. Aji Saka pun menyuruh Dora Agar mengambil kembali keris pusakanya tersebut.

Akhirnya berangkatlah Dora untuk mengambil keris dari tangan Sembada. Sampailah Dora di tempat Sembada. Untuk awalannya mereka saling berbincang satu sama lain menanyakan situasi masing-masing.

Baru sesudah itu perbincangan mengarah keinginan Dora untuk mengambil keris pusaka untuk diberikan ke Aji Saka. Sembada ingat bakal pesan yang disampaikan oleh Aji Saka bahwasanya cuma Aji Saka saja yang diizinkan untuk memperolehnya langsung menampik keinginan si Dora.

Sedangkan si Dora termasuk wajib menuruti segala perintah dari tuannya supaya  menjangkau keris tersebut. Mereka saling tak berkenan mengalah satu sama lain dan melindungi amanahnya.

Merekapun jalankan pertempuran dahsyat dan mati-matian. Kekuatan dan kebolehan mereka didalam bertarung sama sama seimbang, selanjutnya mereka berdua-pun selanjutnya tewas secara bersama-bersama.

Kabar kematian kedua abdinya akhirnyasampai terdengar oleh sang Aji Saka. Aji Saka amat menyesal bakal kecerobohannya tersebut.

Dengan tujuan untuk bisa menghargai kedua abdinya tersebut, sesudah itu Aji Saka membawa dampak sajak huruf atau aksara layaknya yang sampai saat ini telah kita kenal saat ini yaitu:

Ha Na Ca Ra Ka = ada dua orang utusan (carakan)

Da Ta Sa Wa La = keduanya saling bertarung untuk mempertahankan amanah

Pa Dha Ja Ya Nya = keduanya mempunyai tingkat kesaktian yang sama

Ma Ga Ba Tha Nga = maka keduanya-pub mati menjadi bangkai.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: